Hilangnya Setengah Jalan Akibat Dimakan Oleh Transportasi Pribadi Roda Empat

Jalanan semakin sempit, transportasi pribadi semakin menjamur. Kata-kata tersebut sebaiknya lebih dipahami bagi masyarakat yang terus saja mengonsumsi mobil dan membelinya hanya sekedar pamer di jalanan. Kesadaran mengenai kepedulian lingkungan seharusnya mulai ditanamkan sejak saat ini. Mengapa? Karena bumi yang kita injak sekarang sudah mulai rapuh dan dilanda kerusakan.

Apabila sikap kita masih memperdulikan diri sendiri terkait kemewahan demi mendapatkan gelar pengakuan martabat dari orang lain, maka pikiran itu salah! Sebaliknya orang yang hanya mementingkan diri sendiri demi mendapatkan pengakuan harta martabat tersebut sama saja sedang meminta orang lain untuk menganggapnya rendah.

Apa hubungan permasalahan kepemilikan transportasi pribadi roda empat dengan mendapatkan pengakuan harta martabat? Di era globalisasi saat ini seperti jabatan, status menjadi perbincangan yang hangat di media sosial. Mobil atau kepemilikan transportasi pribadi beralih fungsi dari mempermudah aktifitas menjadi ajang pamer bagi sang pemilik. Maka dari itu, orang-orang berbondong-bondong membeli kendaraan pribadi terutama transportasi roda empat dari berbagai jenis merk dan model dengan melakukan berbagai cara. Baik menggadaikan harta benda, hutang hingga mencicilnya (kredit) demi mendapatkan mobil di depan mata.

Bahkan, saat ini banyak produsen dari berbagai merk mobil berlomba-lomba meluncurkan mobil dan mengambil resiko tinggi menjual dengan harga murah hanya untuk bisa menembus pasaran masyarakat. Para pemilik perusahaan tersebut pintar memanfaatkan situasi era teknologi canggih untuk menarik minat pembeli. Fatalnya, akibat masyarakat semakin marak berbondong-bondong memiliki kendaraan pribadi roda empat. Tanpa disadari saat mereka membawa kendaraan pribadinya ke jalanan secara serempak untuk keperluan bepergian, telah memakan setengah jalan raya hak bagi kendaraan umum maupun transportasi lainnya.

Keadaan miris tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor lain selain dari individual pemilik transportasi pribadi, diantaranya:

Pertama, kebijakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak membuat peraturan pembatasan distribusi kendaraan pribadi bagi daerahnya sendiri. Sehingga, perusahaan produksi kendaraan pribadi secara leluasa menjual belikan produknya di Indonesia tanpa memikirkan kerugian yang di alami bagi negara ini.

Kedua, jalanan raya yang hanya dipenuhi kendaraan pribadi, dari pihak pemerintah hanya memberikan solusi pelebaran jalan demi kelancaran dan kenyamanan bersama. Seolah-olah pemerintah tetap bertanggung jawab dalam permasalahan transportasi. Ketiga, pemerintah pusat minus dalam memberikan pelayanan transportasi umum bagi masyarakat.

Transportasi umum yang maju hanya dikembangkan dipusat ibu kota, sedangkan bagi kota-kota lain dan daerah sebagian besar masih menerapkan transportasi umum kuno. Jika keadaan transportasi pribadi roda empat masih saja dibiarkan distribusinya di Indonesia tanpa ada ketegasan pemerintah dan masyarakat masih saja ada yang menjadi konsumennya. Dari tahun ke tahun keadaan di jalanan hanya akan dipenuhi dengan kendaraan pribadi dan di mana-mana akan terjadi kemacetan parah tanpa ada kendaraan yang bisa berjalan setiap harinya.

Leave a Reply